LESSON LEARNED

Kegagalan adalah suatu proses menuju keberhasilan yang tertunda. Kegagalan justru memberikan pelajaran yang amat sangat berharga dan tidak akan pelajaran itu didapatkan jika kita meraih kemenangan tanpa kegagalan.

Suatu cerita, saya mengikuti sebuah seleksi International Internship yang diadakan oleh suatu negara. Semua orang diseluruh negara di dunia memiliki kesempatan untuk mendaftar dan akan dipilih maksimal satu orang untuk menjadi salah satu representative dari negaranya. Tiga minggu saya habiskan waktu untuk mengurus semua berkas, mulai dari mengisi formulir, menerjemahkan academic transcript di sworn translator, hingga membuat pernyataan alasan mengapa saya ingin ikut program tersebut dijelaskan dalam maksimal 1000 karakter. Terlihat mudah akan tetapi melelahkan juga.

Selama kurang lebih menunggu sekitar dua minggu. Alhamdulillah, ternyata saya tidak berhasil. 😀 Menyesal? Iya dan tidak. Akhirnya saya melihat daftar nama pemenang yang tercantum di website resminya. Ada 37 negara berbeda dan masing-masing diwakili oleh satu orang. Entah mengapa saya iseng mencari infomasi tentang orang Indonesia yang memenangkan program tersebut.

Pada akhirnya saya menangis. Bukan karena saya gagal lolos seleksi program itu, tetapi menangis lihat isi profil LinkedIn si pemenang yang saya dapatkan dari search di Google. Saya memang tidak kenal dengan orang tersebut, tetapi saya menyimpulkan bahwa orang itu jauh luar biasa lebih dari saya yang sekarang. Beliau berkuliah di universitas nomor satu di Indonesia yang saya pun tidak pernah terbesit untuk hanya sekedar bermimpi berkuliah ditempat tersebut karena saya tahu kemampuan saya masih dibawah rata-rata. Beliau memiliki segudang aktivitas yang berkaitan dengan bidang yang ia geluti dan juga memiliki segudang achievement atau prestasi yang saya tidak pernah sama sekali, bahkan satupun mendapatkan hal tersebut dalam hidup saya. Sadar betapa hinanya saya setelah melihat profil beliau. Mungkin kalau saya punya perusahaan, terus melihat curriculum vitae beliau saya akan memintanya untuk menggantikan saya. Tapi logikanya mungkin beliau yang punya perusahaan duluan. 😅

But lesson learned...

Meskipun saya gagal, akan tetapi karena kegagalan itulah membuat pikiran saya lebih terbuka. Membuat saya lebih sadar diri bahwa saya bukan siapa-siapa. Sadar bahwa hidup yang diberikan Allah tidak saya manfaatkan dengan baik selama ini. Saya malah bermalas-malasan dan semakin lama seperti orang yang tidak memiliki motivasi hidup. Padahal tidak semua orang bisa stay alive hingga umur berpuluh-puluh tahun dan hidup berkecukupan seperti saya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa banyak juga orang yang sedang melesat jauh dari saya dan memanfaatkan peluang sebaik-baiknya dalam hidup yang mereka miliki.
 
Kegagalan membuat saya termotivasi untuk seperti orang-orang yang luar biasa itu. Saya ingin lebih banyak belajar lagi, berlatih lagi, dan terus mencoba sampai berhasil. Proses yang saya mulai dan jalani harusnya tidak saya khianati lagi. Meskipun ya, saya masih berpikir kalau orang-orang yang luar biasa itu "gifted" dan saya tidak merasa "gifted". Ya ikhlaskan saja. Stay in mind that Allah is fair dan intinya selalu bersyukur.

And lesson learned...

Uang seratus ribu yang saya habiskan untuk menerjemah academic transcript tidak sebanding dengan pelajaran berharga yang saya dapat. Segala sesuatu tidak akan pernah didapat secara instant. Semuanya butuh kerja keras. Semuanya butuh lelah. Buktinya saya pernah berhasil mencapai sesuatu dan sempat menghasilkan uang karena berjuang dengan ikhlas dan merasakan kelelahan. Itu yang membuat saya percaya kerja keras yang ikhlas tidak akan mengkhianati hasil.

Tidak peduli apa kata orang yang merendahkan kita, I experienced it many times, there are so many people easily mocking our efforts. But actually I don't have to care. Because they do not determine anything in our life, they do not make me success in life though. They are just nothing. Mereka mungkin saja iri akan kerja keras dan keberhasilan yang kita lakukan. Tapi saya tidak akan menjadi mereka, justru sebaliknya ketika saya melihat orang yang lebih hebat dari saya pasti saya kagumi dan dijadikan motivasi, bukan saya rendahkan. Kesimpulannya adalah baca kembali paragraf pertama di atas.

*Akhirnya saya dapat mencurahkan secuil isi pikiran dan kegelisahan saya. Asyiknya menulis membuat saya melupakan kewajiban utama yaitu mengerjakan tugas. Oleh karenanya saya harus mengakhiri tulisan ini. Terima kasih kepada diri saya karena sudah mau menulis sedikit, lumayan mengurangi beban hidup 0,1%.*


Comments

Popular posts from this blog

BELAJAR TANPA BATAS

A POEM BY IMAM SHAFI'I

JUST A LITTLE REVIEW : RENTANG KISAH BY GITASAV